Adakah Kepuasan Jadi Financial Advisor di Axa Mandiri?

Biasanya kerja gak sesuai passion itu gak ada puasnya sama sekali.Ah boro-boro bicara kepuasan,menikmati saja gak bisa apalagi puas.Tapi yah, mengeluh juga bukanlah sikap dewasa yang menandakan bahwa saya siap memasuki dunia kerja.

Tapi saya akan kesampingkan dulu persoalan passion (Emangnya passion lu apa sih ris? Passion saya ya?Hkmm, passion saya sih menulis...menulis ungkapan-ungkapan betapa saya mencinta kamu..Apa sih geje)


Oke oke kembali ke laptop...


Sebelumnya saya sudah nulis pada artikel terdahulu tentang apa itu financial advisor.Kalo kalian belum tau apa itu Financial Advisor silahkan baca artikel saya  sebelumnya..cari aja di blog ini,obrak abrik aja..


Sebagai FA (Financial Advisor) di AXA Mandiri ada dua produk yang bisa saya referensikan (jual) pada nasabah.Yaitu asuransi dan investasi.Produk yang mencakup proteksi (asuransi) dan investasi ini namanya unit link.


Unit link ini adalah penggabungan antara ptoteksi jiwa atau kesehatan dan investasi.


Nanti kalo sempat saya mau coba nulis lebih detail tentang produk asuransi dan investasi AXA Mandiri.


Sebelumnya saya belum pernah menjalani pekerjaan yang kerjanya "menjual" begini.Dalam artikel saya yang lain saya sudah cerita, bahkan saya selalu menghindari pekerjaan beginian.Tapi yah apa boleh buat, dapatnya ini, ya jalanin aja dulu.Toh gak buruk-buruk amat kok..


Saya pernah jadi pramuniaga di sebuah toserba, waktu itu saya belum lulus kuliah.Kepuasan dari pekerjaan ini adalah ketika saya dan rekan selesai merapihkan pajangan dan melihat barang menjadi rapih..ada juga kepuasan saat selesai membantu dan melayani costumer.


Begitu juga saat saya bekerja di toko buku, hingga menjadi auditor di sebuah perusahaan distribusi di kota Bandung, selalu ada kepuasan dari setiap pekerjaan ketika saya selesai mengerjakannya.


Menjadi FA di AXA Mandiri, kepuasan yang saya dapatkan adalah, tentu saat closing.


Closing sendiri maksudnya berhasil menjual produk dari AXA Mandiri.


Tapi yang lebih memuaskan saya adalah saat saya berhasil closing dengan cara yang jujur.Karena memang tak sedikit FA ataupun agen asuransi yang tidak jujur dalam menggaet nasabah.


Demi ngejar target dan bonus biasanya bohongpun jadi.Kalo nasabah komplen itu gimana nanti.


Saya juga pernah menjual dengan cara yang tak jujur.Misal,saya menjelaskan produk unit link tersebut dengan istilah tabungan tanpa saya sebut manfaat lebihnya yaitu asuransi perlindungan jiwanya.


Ketika buku polisnya tiba di rumah nasabah,dan terpampang tulisan buku polis dan kalimat asuransi jiwa, si nasabah ini langsung datang ke BANK dan meminta polisnya ditutup.Dia merasa tidak pernah dijelaskan soal asuransinya.


Tentu saya tak mau tersudutkan, maka saya pun bilang bahwa saya sudah menjelaskan tapi ibu mungkin lupa dan kurang menyimak.Untung saja si ibunya tidak marah-marah dan tidak meminta diputarkan rekaman CCTV-nya, kalo sempet kejadian gitu,mampuslah aku..eh di CCTV suara kerekam gak sih??


Masalahnya tantangan menjual asuransi itu ya ada pada kata asuransi itu sendiri.Gak tau kenapa kayaknya banyak banget orang anti sama asuransi.Saya maklum sih, mungkin banyak orang ngerasa ketipu sama penjelasan FA atau agen asuransi di luaran sana.


Itu sebab orang seperti saya ini harus pandai-pandai "bersilat lidah."Bagaimana cara membahasakan kata "asuransi" ini dalam bentuk lain.Saya kadang memakai istilah santunan.


Jadi dalam produk unit link ada dua manfaat.


Manfaat hidup dan manfaat meninggal dunia.Manfaat hidupnya adalah nilai investasi yang terbentuk, manfaat meninggal dunianya adalah Uang Pertanggungan (UP) yang telah ditentukan di awal yang akan diberikan pada termaslahat atau ahli waris.Bisa anak,isteri,suami ataupun orang tua.


Saya harus pintar-pintar membaca karakter nasabah.Kalo dia terlihat anti asuransi saya harus "cuci" dulu otaknya.Syukur-syukur berhasil.Tapi kalo nasabah yang sudah sadar pentingnya asuransi, saya tak segan-segan untuk menyebut istilah asuransi.Makanya bahasa saya tergantung karakter nasabah.Gak bisa dipukul rata.


Hal lain yang memberi kepuasan sekaligus menjawab pentingnya asuransi adalah saat melayani claim nasabah.Saya pernah menangani claim nasabah wanita yang suaminya meninggal dunia.Selain seorang isteri, almarhum meninggalkan juga dua orang anak yang masih kecil-kecil.


Saya bisa merasakan betapa wanita tersebut merasakan kehilangan.Bukan hanya kehilangan sosok yang dicintai,tapi juga kehilangan sosok yang menjadi ujung tombak keluarga dalam mencari nafkah.


Bayangkan kalo suaminya tidak memiliki asuransi?


Trainer saya pernah cerita tentang pengalamannya sampai akhirnya dia sadar tentang pentingnya asuransi.Suatu hari seorang kenalannya bertanya padanya.


"Kalo misalnya anda pergi dua hari berapa uang yang akan anda tinggalkan untuk anak isteri anda? satu dua atau tiga juta? 


pertanyaan berikutnya


Kalo anda pergi untuk selama-lamanya berapa kira-kira uang yang akan anda tinggalkan?"


Pertanyaan inilah yang menohok dirinya sehingga akhirnya membeli sebuah produk asuransi yang dapat menjaga keluarganya kelak jika terjadi resiko (kematian) yang tidak diinginkan dalam hidupnya.


Sama seperti kisah nasabah wanita yang saya ceritakan di atas.Bukan berarti dia mengharapkan suaminya meninggal dunia.Tapi bukankah materi yang ditinggalkan melalui perusahaan asuransi dapat menjadi obat, sedikit penghiburan untuk anak isterinya, hingga dapat didepositokan atau dijadikan modal usaha agar dia bisa menghidupi anak-anaknya?


Saya pikir mereferensikan hingga dapat menjual produk dengan jujur,berdiskusi dengan nasabah, hingga menangani proses claim adalah beberapa sisi kepuasan menjadi seorang Financial Advisor.


Melihat wajah-wajah nasabah yang mendapatkan uang cukup untuk melanjutkan hidup saat terjadi resiko yang tak disangka-sangka adalah kepuasan tersendiri bagi saya.


cemiwww...
Baca Juga

Comments

This comment has been removed by the author.
This comment has been removed by the author.

Popular Posts

RECENT POST