Tantangan Jadi Financial Advisor di AXA Mandiri


Wartawan…inilah profesi impian saya sejak masa SMA di Pekan Baru.Entah sejak kapan saya mendambakan profesi ini.Apa sejak saya jatuh cinta dan ditolak ya? Hahaha, saya lupa.

Tapi dalam novel saya yang berjudul Kamu dan Braga saya menceritakan dorongan hati saya yang ingin jadi seorang wartawan, wartawan di media apapun, tapi waktu itu Kompas adalah tujuan saya.
Saya lulus SMA tahun 2010, pada masa ini media cetak masih jaya-jayanya.Dan media online terus merangkak naik.Walaupun saat saya di kampung dulu, saya belum pernah bersentuhan dengan media online.

Ketika itu setiap pulang sekolah, saya dan seorang sahabat bernama David Adrianto Manulang, yang posturnya mirip Sylvester Stallone, harus langsung ke pasar untuk bantu menutup dagangan orang tua.Sekarang jika saya mengenang masa ini, rasanya indah sekali..Tak terperikan kalo kata Andrea Hirata.

Nah setelah pasar tutup dan orang-orang juga menutup dagangannya, kan banyak tuh koran-koran bekas berserakan.Disitulah saya suka mengumpulkan koran-koran bekas itu dan mulai melahapnya stau persatu.Itulah salah satu kegiatan rutin saya selama masa SMA.

Hobi membaca saya memang sudah ada sejak kecil, mungkin karena orang tua saya suka menyediakan majalah bobo dirumah.Sejak itu saya terus berlangganan majalah bobo, juga saya suka membaca cerita Petruk dan Gareng karya Tatang S yang tanda tangannya sulit sekali untuk ditiru.

Pada masa itu saya juga suka ngeband di sekolah.Entah kenapa hal yang sekarang terasa norak ini dulu seperti keren di sekolah.Terutama untuk kaum Adam, entah kenapa kok merasa keren kalau bisa main gitar.Yah namanya juga di kampung.Itulah trend pada masa itu.

Sekarang trend nya bergeser toh, lebih ke boy band, dan kini orang yang dulu menggandrungi trend ini juga pasti merasa hal itu norak, atau bahasa kekiniannya alay.

Dorongan untuk jadi orang terkenal lahir di diri saya dari hobi jadi anak band.Kalau ngelihat Peterpan (sekarang Noah) dipuja-puja dengan Ariel nya siapa sih yang tak ingin seperti mereka.Tapi saya tahu, memang saya ingin jadi populer kelak, tapi bukan sebagai anak band, melainkan sebagai seorang jurnalis, kesanalah kedewasaan mendorong saya.

Bagi saya profesi jurnalis itu nyentrik dan berkharisma, ada kemurungan yang saya suka dari profesi ini, yaitu berpikir.Memang saya cukup suka melamun dan berpikir.Kelak saat saya kuliah dan merasa gagal mencapai impian jadi wartawan, dosen adalah alternatif profesi yang sangat saya ingini.Nanti lain kali saya cerita soal ini.

Singkat cerita saat saya sudah lulus kuliah dunia media sudah tergoncang.Kelahiran internet dengan penetrasi yang sangat cepat, membuat satu persatu koran yang dulu sering saya baca gulung tikar.Kini bukan hanya koran, majalah pun sudah banyak yang tak terbit secara fisik.

Yang masih punya nafas, beralih terbit ke versi online.Fenomena ini membuat wartawan adalah salah satu profesi yang akan punah di masa depan.Jadi apakah fenomena dan faktor eksternal ini yang membuat saya gagal jadi jurnalis? Gak juga sih, memang skill dan nasib punya goresan lain untuk saya.Nanti lain kali saya cerita..

Singkat cerita diterimalah saya bekerja di AXA Mandiri sebagai seorang Financial Advisor.Kalian bisa baca perjalanan saya hingga akhirnya diterima di AXA Mandiri pada tulisan saya yang lain.

Setelah setahun lebih kerja di perusahaan ini, apa kesan saya?

Nanti saya akan bahas soal kesan ini pada tulisan saya lainnya.

Tapi setidaknya saya banyak belajar tentang dunia asuransi dan investasi. Nanti juga saya akan bahas hal ini lebih detail.

Tapi AXA Mandiri ini memang perusahaan besar.Salah satu komentar pernah masuk ke saya, katanya AXA Mandiri besar karena menipu orang lain.Gak percaya? Coba baca komentar pada tulisan lain di blog ini.Banyak juga yang komplen.

Gak apa-apa sih, cuman yang mau saya tekankan, blog ini saya buat justru untuk berbagi pengalaman.Saya menjelaskan apa yang seharusnya terinformasikan.Gak mungkinlah saya menjelek-jelekkan perusahaan yang kasih saya makan.

Jadi, tantangan pertama saat jadi Financial Advisor di AXA Mandiri adalah stigma negatif itu sendiri.Itulah yang saya alami dulu (bahkan hingga hari ini).

Bayangkan kamu bekerja di sebuah perusahaan yang dianggap menipu banyak orang, dimana letak kebangganmu?

Soal tipu menipu ini pun akan saya ceritakan pada tulisan lain.

Tapi percayalah, tidak ada produk yang jelek, tenaga penjual yang jahat si banyak.Jadi kalau kalian merasa tertipu, salahkanlah tenaga penjualnya, terutama diri sendiri, kenapa tidak teliti sebelum membeli.

Apalagi berhubungan dengan uang yang tidak sedikit, harusnya bisa lebih cermat.Ya memang keterbatasan pengetahuan ditambah iming-iming pihak bank yang kita anggap bisa dipercaya untuk menyimpan uang kita, membuat kita terbuai.

Ya memang sudah seharusnya kita percaya dengan bank.Tapi ingat, di bank itu ada yang namanya insurance.Baca tulisan lain saya yang membahas tentang bank insurance.Nah kadang produk insurance dijelaskan seolah-olah produk bank.Disinilah banyak nasabah ketipu.

Inilah stigma dan isu dalam dunia asuransi.Nah saat kamu diterima bekerja sebagai seorang Financial Advisor, segera siapin mental untuk menghadapi kondisi yang ada, tapi jangan takut.Cemiwww.
Baca Juga

Comments

Popular Posts

RECENT POST