Mengenal Profesi Financial Advisor di AXA Mandiri

Jika ada pertanyaan silahkan komen di kolom komentar channel youtube saya, saya akan jawab sebisa saya.Jangan lupa di subscribe ya


-------
Financial Advisor? Hah, Itu apa sih? Sejenis batagor atau cilok ya? Bukan! Sederhananya Financial Advisor itu adalah perencana keuangan. Sebenarnya saya juga baru mengenal istilah financial advisor. Kok bisa saya jadi seorang Financial Advisor saat keuangan saya sendiri karut marut? Itulah ironinya. Keuangan sendiri aja babak belur kok mau ngerencanain keuangan orang lain. HAHAHA ....


Tapi gak apa-apalah ya..sambil merencanakan keuangan orang lain, saya juga belajar merencanakan keuangan saya pribadi. Sebelumnya melalui artikel Susah Senang Jadi Tenaga Penjual di Bank Insurance saya sudah menjelaskan apa itu bank insurance. Bank InsuranceBank Insurance sendiri adalah asuransi tetapi tidak berdiri sendiri, melainkan melekat pada bank.
Jadi sampe sini jelas ya apa itu bank Insurance. Bank insurance ni punya tenaga penjual yang namanya Financial Advisor. Sekarang saya mau jelasin lebih jauh orang macam apa itu Financial Advisor .Saya sendiri belum lama jadi seorang Financial Advisor atau yang biasa disingkat dengan sebutan FA. Dari namanya yang terlalu keren dan ada berbau fainens awalnya saya sudah yakin kalo posisi ini pasti tak jauh-jauh dari seorang sales (asuransi).
Yahh..yang namanya sales, atau di dunia asuransi biasa disebut agen, saya yakin bukan profesi yang diidam-idamkanlah. Boro-boro, mendengar kata asuransi saja kebanyakan dari kita sudah berprasangka negatif. Maklum dan wajar, sebab ada cukup banyak kesalahpahaman (hingga penipuan) yang terjadi antara perusahaan, agen, dan mereka yang berhubungan dengan asuransi.
Jadi apa yang membedakan agen asuransi dengan seorang Financial Advisor?
Saya pikir Financial Advisor lebih terkesan bonafit dan enak ya dibandingkan agen. Kalo Financial Advisor itu kerjanya di bank. Kalo agen dia harus lebih fight. Karena mau gak mau harus turun ke lapangan. Harus turun ke pasar dan masyarakat.Bukan berarti Financial Advisor gak boleh turun ke masyarakat loh ya.Trainer saya pernah cerita, jadi dia punya anak didik (Financial Advisor) yang rajin banget nyari nasabah ke pasar. Jadi dia gak cuman diem di bank.
Apa sebab? Kok sampe gitu-gitu banget.
Bisa kita lihatlah kondisi bank saat ini. Jumlah orang yang datang ke bank itu terus berkurang. Semua sudah pakai gadget. Setiap hari saya melihat nasabah datang ke bank minta tolong buat dibikinin m-banking. Jadi bagi Financial Advisor yang ditempatkan di cabang yang sepi, mau gak mau,ya harus turun ke lapangan.
Financial Advisor juga sering keluar, tapi biasanya lebih nemuin nasabah dengan kategori HVC (high value case).Jadi apa menariknya jadi seorang Financial Advisor? Kalo gaji gak usah ditanya,seorang Financial Advisor tuh bisa punya penghasilan tak terbatas. Sama seperti sales pada umumnya.
Tapi dari sisi nonduitnya, menurut saya pekerjaan ini menarik dan menantang. Setelah saya pelajari produknya, saya melihat bagaimana produk asuransi itu bermanfaat sekali buat mereka yang memilikinya.
Ah buat apa kan sudah ada BPJS dari pemerintah?
Pertanyaan saya, apakah kalau kita dirawat inap BPJS akan mengganti biaya yang terjadi selama di rawat inap? Misalnya ongkos bulak-balik dari rumah ke RS, dan juga biaya-biaya lainnya. Dengan memiliki produk asuransi kesehatan jika suatu saat terjadi risiko sakit maka pihak asuransi akan menanggung biaya-biaya yang terjadi,tentu sesuai dengan produk yang diambil.
Saya bukan mau dagang di sini loh ya...Ini cuman satu contoh di mana menarik dan menantangnya menjadi seorang Financial Advisor. Bagaimana mengelola pikiran orang lain agar terbuka, dan sadar tentang pentingnya asuransi bagi keluarga. Ntar deh saya bakal cerita lebih teknis tentang dunia yang sendiri juga baru belajar.
Bukan hanya harus menguasai produk (product knowledge) yang menantang buat saya adalah bagaimana saya harus bisa menjual sesuatu yang barangnya tidak ada. Kalo sales semen, jelas semennya ada. Kalo sales rokok jelas rokoknya ada. Lah kalo asuransi? Kita tuh menjual sesuatu yang gak ada barangnya. Kita menjual sesuatu yang belum dibutuhkan orang lain.
Kita menawarkan perlindungan kesehatan pada orang yang jelas-jelas sehat. Whatttttttt!!!!! Ya memang produk asuransi harus dibeli orang sehat. Kalo udah sakit,gak akan ada perusahaan asuransi yang mau nanggung. Secara pribadi, menjadi seorang financial advisor membuat saya tertantang untuk terus belajar: dunia komunikasi juga dunia sales. Mulai dari teknik closing, hingga three magic word dalam berkomunikasi. Apa itu three magic word? Semacam salam gitulah.
Saya juga jadi makin tertarik memahami dunia keuangan. Mulai dari reksadana, saham, hingga harga unit dan istilah-istilah lain yang selama ini hanya bisa saya baca di layar televisi. Saya juga gak tahu kenapa saya bisa nyangkut pada pekerjaan ini. Tapi ada sebuah kutipan yang saya baca di dinding kantor kerja saya, bunyinya begini:
Life begins at the end of your comfort zone
Saya gak bilang jadi Financial Advisor itu enak, tekanannya juga ada. Atasan pasti nekan kita buat capai target. Piuhh. kalo bisa jadi PNS saya bakal milih jadi PNS. Tapi toh kenyataannya saya bukan PNS.
Jadi semenantang apapun pekerjaan (selama bukan nyawa taruhannya) menurut saya layaklah buat dijalanin. Jadi Financial Advisor tuh udah kayak bisnismen aja pokoknya. Harus pandai bekerja sama,harus pandai menjalin relasi,pokoknya kerjanya tuh berhubungan dengan banyak orang. Soft Skill tuh dibutuhin bangetlah pokoknya.

Tapi biasanya kerja gak sesuai passion itu gak ada puasnya sama sekali.Ah boro-boro bicara kepuasan, menikmati saja gak bisa apalagi puas. Tapi yah, mengeluh juga bukanlah sikap dewasa yang menandakan bahwa saya siap memasuki dunia kerja.Tapi saya akan kesampingkan dulu persoalan passion (Emangnya passion lu apa sih ris? Passion saya ya? Hkmm, passion saya sih menulis...menulis ungkapan-ungkapan betapa saya mencinta kamu.. Apa sih geje)
Oke oke kembali ke laptop...Sebelumnya saya belum pernah menjalani pekerjaan yang kerjanya menjual begini. Dalam artikel saya yang lain saya sudah cerita, bahkan saya selalu menghindari pekerjaan beginian. Tapi yah apa boleh buat, dapatnya ini, ya jalanin aja dulu. Toh gak buruk-buruk amat kok..
Saya pernah jadi pramuniaga di sebuah toserba, waktu itu saya belum lulus kuliah. Kepuasan dari pekerjaan ini adalah ketika saya dan rekan selesai merapihkan pajangan dan melihat barang menjadi rapih.. ada juga kepuasan saat selesai membantu dan melayani costumer. Begitu juga saat saya bekerja di toko buku, hingga menjadi auditor di sebuah perusahaan distribusi di kota Bandung, selalu ada kepuasan dari setiap pekerjaan ketika saya selesai mengerjakannya.
Menjadi Financial Advisor kepuasan yang saya dapatkan adalah, tentu saat closing. Closing sendiri artinya berhasil menjual produk perusahaan. Tapi yang lebih memuaskan saya adalah saat saya berhasil closing dengan cara yang jujur. Karena memang tak sedikit Financial Advisor ataupun agen asuransi yang tidak jujur dalam menggaet nasabah. Demi ngejar target dan bonus biasanya bohongpun jadi. Kalo nasabah komplen itu gimana nanti.


Masalahnya tantangan menjual asuransi itu ya ada pada kata asuransi itu sendiri. Gak tau kenapa kayaknya banyak banget orang anti sama asuransi. Saya maklum sih, mungkin banyak orang ngerasa ketipu sama penjelasan Financial Advisor atau agen asuransi di luaran sana.
Itu sebab orang seperti saya ini harus pandai-pandai "bersilat lidah." Bagaimana cara membahasakan kata "asuransi" ini dalam bentuk lain. Saya kadang memakai istilah santunan.
Saya harus pintar-pintar membaca karakter nasabah. Kalo dia terlihat antiasuransi saya harus "cuci" dulu otaknya. Syukur-syukur berhasil. Tapi kalo nasabah yang sudah sadar pentingnya asuransi, saya tak segan-segan untuk menyebut istilah asuransi. Makanya bahasa saya tergantung karakter nasabah. Gak bisa dipukul rata.
Hal lain yang memberi kepuasan sekaligus menjawab pentingnya asuransi adalah saat melayani claim nasabah. Saya pernah menangani claim nasabah yang suaminya meninggal dunia. Selain seorang isteri, almarhum meninggalkan juga dua orang anak yang masih kecil-kecil.
Saya bisa merasakan betapa wanita tersebut merasakan kehilangan. Bukan hanya kehilangan sosok yang dicintai, tapi juga kehilangan sosok yang menjadi ujung tombak keluarga dalam mencari nafkah. Bayangkan kalo suaminya tidak memiliki asuransi? Trainer saya pernah cerita tentang pengalamannya sampai akhirnya dia sadar tentang pentingnya asuransi. Suatu hari seorang kenalannya bertanya padanya.
"Kalo misalnya anda pergi dua hari berapa uang yang akan anda tinggalkan untuk anak isteri anda? satu dua atau tiga juta? 
Pertanyaan berikutnya
"Kalo anda pergi untuk selama-lamanya berapa kira-kira uang yang akan anda tinggalkan?"
Pertanyaan inilah yang menohok dirinya sehingga akhirnya membeli sebuah produk asuransi yang dapat menjaga keluarganya kelak jika terjadi risiko (kematian) yang tidak diinginkan dalam hidupnya. Sama seperti kisah nasabah wanita yang saya ceritakan di atas. Bukan berarti dia mengharapkan suaminya meninggal dunia. Tapi bukankah materi yang ditinggalkan melalui perusahaan asuransi dapat menjadi obat, sedikit penghiburan untuk anak isterinya, hingga dapat didepositokan atau dijadikan modal usaha agar dia bisa menghidupi anak-anaknya?
Saya pikir mereferensikan hingga dapat menjual produk dengan jujur,berdiskusi dengan nasabah, hingga menangani proses claim adalah beberapa sisi kepuasan menjadi seorang Financial Advisor. Melihat wajah-wajah nasabah yang mendapatkan uang cukup untuk melanjutkan hidup saat terjadi resiko yang tak disangka-sangka adalah kepuasan tersendiri bagi saya.
cemiwww...
Baca Juga

Popular Posts

RECENT POST